Selasa, 03 Maret 2015

KAMPOENG MUSI 2015



Haa akhir-akhir ini di daerah JABODETABEK banyak kasus “BEGAL” , aku sendiri masih asing dengan kata “Begal” dan semakin mengerikan . Kami Mahassiswa dihimbau untuk tidak pulang terlalu malam. Padahal beberarapa minggu kemarin, aku sering pulang malam dan aku pernah lihat sendiri komplotan atau geng motor di depan kosanku tetapi tidak membahayakan karena aku langsung lari panik masuk kosan.  Sebelumnya pun aku sering pulang malam bahkan dengan naik angkot tapi itu aku bersama dengan Dea yang menurutku lebih aman pulang berdua daripada sendirian biasanya sehabis latihan Kampung Musi. Sekarang Kampung Musi itu telah selesai dilaksanakan dan tak ada latihan lagi. Aku rindu dengan masa-masa latihan seperti itu walaupun latihannya sampai malam banget.
          Kampung Musi kemarin yang diadakan tanggal 28 Februari 2015 di Dago Tea House benar-benar menyedot perhatianku. Bagiamana tidak, aku terpana melihat kemampuan bermain peran para pemainnya dan juga alur ceritanya terutama sih bagian Tari kontemporer dan tari-tari lainnya yang begitu apik. Ada perasaan lega dan senang ketika teman-teman Kampung Musi berhasil membawakan drama musical dan tarian dengan indah. Sekarang pun aku masih merasakan perasaan senang itu dan ketika aku diwawancarai oleh Anto untuk Kantor berita ITB, aku menceritakannnya dengan antusias dan tak ingin melewatkannya sedikit pun. Sayangnya aku tidak mendokumentasikan keseluruhan rangkaian acara Kampung Musi karena aku juga ikut andil sebagai penari Gending Sriwijaya bersama Kak Ayi (pembawa tepak), Kak Zunda, Riri, Evi, Tata, Kak Tia, Deanawati, Kak Lia.


          Kampung Musi kali ini mengangkat Tema Putri Pinang Masak, yang sebagai pemeran utama adalah Dea Yulistia. Aku suka totalitasnya dalam memainkan peran sebagai Putri Pinang Masak bagaimana juga dia pernah Juara 2 Pemeran Wanita Terbaik Nasional. Dulu MUSI ITB ’13 juga memainkan pagelaran mini berjudul Putri Pinang Masak, aktris utamanya Deanawati(Desain Interior’13), perannya juga sungguh menghibur dan bagus. Lawan mainnya yang jadi Sesungging adalah Afif Darmawan, tentunya yang jadi sunan adalah Teddy(TM’13). Ada yang menarik dengan para pemain Putri Pinang Masak di Kampoeng MUSI 2015  karena dimainkan oleh kakak beradik. Peran sunan diambil oleh Setyaki Sholata Sya(2010) dan adiknya Genting Sholata Sya (2014). 


          Tiga tahun berturut-turut Kampung Musi (2013, 2014, 2015) akhir ceritanya selalu sad ending dengan kematian. Tahun 2013 mengankat tema Legenda Pulau Kemarau yang juga berakhir dengan Kematian. Begitu juga dengan 2014 mengangkat tema Legenda Perahu Bidar yang berakhir sang putri membelah menjadi dua. Kira-kira tahun depan pakah sad ending atau happy ending tetapi menurut beberapa orang MUSI ITB , akhir cerita dengan sad ending lebih mendrama dibandingkan dengan happy ending yang sudah lumrah terjadi. Aku akan menunggu tema Kampung Musi tahun depan.
          Ceritanya memang sedikit menyesuaikan tetapi tak ada yang merubah cerita aslinya. Awalnya cerita ini mengisahkan seorang Putri yang berparas cantik yan selalu dikejar oleh Laki-laki karena ingin memilikinya. Putri pun selalu berpindah-pindah karena ia selalu dikejar-kejar dan sampailah ia di Sumatera bagian Selatan. Di daerah ini juga, banyak laki-laki yang jatuh hati pada sang Putri tetapi sang Putri selalu menolak karena mereka semua jatuh hati karena parasnya yang cantik. Begitu juga dengan Pemuda Sengsungging, ia juga jatuh hati pada Putri tetapi tidak seperti Laki-laki lain, ia mencintai Sang Putri karena tulus bukan karena kecantikannya. Awalnya Sang Putri mengira bahwa Sesungging hampir sama dengan Laki-laki lain tetapi Sesungging membuktikan bahwa ia tulus dengan Sang Putri. 

Kabar tentang seorang Putri cantik pun terdengar oleh Penguasa di daerah tersebut, Sunan sangat ingin memiliki Sang Putri walaupun ia telah memiliki banyak istri. Mendengar kabar ini, istri tertua sunan langsung memberitahu kepada Sang Putri bahwa Putri akan dijadikan istri selanjutnya dan menyuruh Putri untuk pergi ke tempat yang jauh. Sayangnya, Sang Putri tidak ingin berpindah-pindah lagi karena ia juga tidak berapa lama baru pindah ke daerah ini. Ketika Sunan datang, ia begitu terkejut melihat wajah sang Putri yang berbeda dengan apa yang diceritakan oleh orang-orang, wajah Sang Putri berubah menjadi buruk rupa. Sebelumnya Sang Putri mandi dengan Jantung Pisang untuk mengubah parasnya agar Sunan tidak jadi menjadikannya ia istri.
          Lanjut cerita, Sunan sangat marah dan ingin menghukum sang Puti tetapi datanglah Sesungging yang menolong Putri maka terjadilah perkelahian antara Sunan dan Sesungging yang akhirnya Sunan mati dan Sesungging terluka parah. Beberapa bulan berlalu kesehatan Sang Putri makin menurun karena ia banyak memakan sumpahan laki-laki yang ia tolak. Para dayang pun sangat sedih dengan hal ini begitu juga dengan Sesungging, ia sangat khawatir dengan Sang Putri. Tetapi apadaya, Putri pun menghembuskan nafas yang terakhir sebelum ia menghembuskan nafas yang terakhir, ia bersumpah bahwa tak ada wanita yang menajdi cantik di desa ini agar penduduknya damai dan tentram. 



Begitulah akhir ceritanya. Dari cerita ini memberi pesan moral jika kecantikan bukan keseluruhan untuk mendapatkan kebahagiaan tetapi hati yang tuluslah yang menjadi kunci kebahagiaan.
          Untuk para pemain, saya berterimakasih banyak atas totalitasnya dalam pagelaran kali ini. Terima kasih juga telah memperkenalkan budaya Sumatera Selatan ini khususnya di Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Serendipity

   Before the moonshine came out to announce the day will be clear with shining stars, the sun has been informed to the sky do not move thos...