
Pagi,
suara-suara itu terus menyelubungi setiap sudut napas yang berdetak kencang,
menjauhi semua pembenaran yang akan dikatakan oleh alam. Pagi, kabut awan yang
terus berada di belakang semua alam memutar balik dan mengerubungi semua sebab
warna alam menjadi abu dan hitam. Pagi, cerita ini mungkin hanya sejenak dari
semua rasa frustasi yang sedang berlangsung di seberang awan hitam. Pagi,
dengarkan lah semua nada dan irama yang terbentuk di lautan alam dan mencoba
menguap bersama sapuan warna merah. Pagi, nuansa yang dituangkan tidak selalu
berirama dengan cepat kadang ia menutup dan membuka mengikuti dentangan gita di
udara alam. Pagi, rasanya semua bisikan nada itu menggema di seluruh arah mata
angin dan menantikan untuk pergi sesaat teteapi itu tidak akan pudar untuk
waktu. Pagi, jalan yang ada di depan sedang terguncang dan menimbulkan gejolak
serta kebisingan di alam waktu. Pagi, haruskah semua gema itu berhenti di
tempat alam memulai sedangkan alunan nada lain sedang fluktuasi di ujung irama.
Setiap hentakan yang ada dalam alunan suara sekitar mencoba membungkam semua
warna-waarna di alam. Haruskah semuanya pergi untuk menenangkan setiap jeritan
suara yang pelan dan menusuk di alam?
Pagi,
angin menyapa untuk menghapus semua ingatan alam tentang warna yang membentang
di alam dan membungkus semuanya menjadi hitam, merapikan semua keabsurdan yang
sedang terjadi di alam. Pagi, apakah frekuensi suara di alam masih sama dengan
warna-warna tersebut? Sejuta pertanyaan terus dituangkan dalam balutan tinta
tetapi tak bisa menghilangkan jejak rasa warna-warna yang sudah terukur di
alam. Sejuta jawaban mungkin ada untuk bisa membuat setiap pertanyaan membuka
alam tetapi itu hanya sementara. Kekalutan yang ada di alam menciptakan semua
ketegangan warna warna dan membuatnya hampir lepas kendali, membuat semua
menjadi realita dan lagi-lagi itu hanya jebakan alam yang ingin mengembalikan
semuanya menjadi satu warna. Lalu, bagaimana kah dengan setiap gita yang masih
membumi dan melangit di alam? Bisakah nada gita itu merima dan melepaskan
keabsurdan di alam?
Pagi,
ini adalah alunan kata yang aneh dimana waktu masih akan memantau apakah ini
sebuah pembenaran yang pasti. Hempasan semua nada menggerogoti semua jalan
putih di atas awan pikiran dan melalui semua jalan bebatuan tajam. Apakah ia
akan terhenti disini saja, di alam dan waktu? Pergulatan warna masih terjadi, mencampuradukkan
semua warna dan memproses siapakah warna yang tepat untuk menghiasai alam kali
ini. Firasat tentang waktu terus terjadi dimasa manapun, entah harus dirasakan
atau merasakan detakan waktu, itu pun sedang dipersiapkan alam. Lalu, sampai
kapan semua kilatan ketakutan warna itu akan memudar di setiap ujung waktu
alam? Bukankah sudah cukup dengan semua gambaran bintang-bintang yang terlukis
di alam. Memikirkan sedikit pun bukan berarti telah menyelesaaikan semua
perhelatan warnaa-warna yang berunjuk untuk menentukan pemenangnya.
Pagi,
masihkah cerita alam dilanjutkan untuk didengarkan kembali. Rasa pahit melawan
warna alam adalah pertempuran yang menjatuhkan semua getaran napas di alam. Itu
semua ketakutan yang membahana sekarang? Bisakah itu hanya menjadi bagian di
lautan terdalam di alam dan tak pernah muncul di permukaan alam. Itu sungguh
menyakitkan melihat semua rasa dan warna bertabur menjadi kilatan hitam dan
menaruhkan setiap tusukan di bumi. Kembalinya angin dari ujung timur terus
membuat gempar semua rasa warna yang bergulir di alam dan memporak-porandakan
semua ingatan. Bagaimana dengan peristiwa di lautan alam. Apakah akan tumpah
dan berproses menjadi buliran rasa yang mengisi setiap warna di alam. Sudahkah
untuk membetulkan nada yang berhamburan bebas di setiap frekuensi dan
mengubahnya menjadi irama tepat untuk meneruskan irama yang terputus? Semua
ketukan itu mulai terasa seperti tusukan yang terus menghujani bentala. Pagi,
suara itu kembali mencopot setiap keyakinan bunyi yang dimainkan, setiap
frekuensi yang didendangkan dan berakhir di titik hitam kembali. Itu terus
berputar dan kembali. Itulah semua nada yang dimainkan untuk waktu ini. Pagi,
tentunya itu semua akan diproses sebelum memasuki alam dan mungkinkah berakhir
di ujung kepahitan alam. Itu juga pertanyaan tentang semua detak alam. Pagi,
apakah nada selanjutnya masih berirama sesuai frekuensi alam atau ia akan
melebur dan akhirnya menghilang.
Pagi,
apakah harus dilanjutkan gama alam menempuh bentangan waktu yang telah ditetapkan?
Hira tersembunyi di antara bumantara dan butala, mempertemukan semua kilauan
yang tersebar di alam. Kama jiwanta dan menyertai gama alam membuka setiap
ukiran kehidupan warna yang terbentuk. Masih ingatkah alam mandaka terhadap
semua warna yang ada dan menjadikan semua rasa dalam satu nala. Nasti pasti mengambil
semua kata nayanika menjadikan sinar untuk setiap hembusan prana. Rawi tetap
beredar di garisnya, mematuhi takdir yang telah ditetapkannya. Sitara pun
selalu muncul di awal untuk memberitahukan roda kala di saat semua warna
angkasa berganti menjadi Nirmala. Purwa alam menampakkan wujudnya di seluruh
warna yang ada dalam waktu sesaat. Saat itu akhir dari lembayung akan bercerita
mengenai jutaan sastra yang masih tersimpan apik dalam balutan dirgantara. Langkah
Pawana menerpa semua puspita di alam suka dan membuka tatapan penglihatan yang
menjurus kepada sang kala. Pagi, sampaikan kepada seluruh alam mengenai Nirwana
alam yang menjadi keniscayaan dan diikuti semua warna patala dan angkasa. Sudahkah
bercerita tentang kanaka di langit yang belum ditemukan oleh alam warna?
Karanya tersembunyi di dalamnya kegelapan tumpukan ribuan debu yang menggunung,
jaganha bumi.
Pagi,
itu terlalu sulit bukan mengartikan semua teka-teki yang diberikan alam mengenai
warna. Itu juga tak ada bedanya dengan mempertemukan diri dengan dunia alam
yang berbeda dari visus. Pagi, elok warna dari alam memang selalu membuat
siapapun terpana dan mencoba membuat arti warna sama untuk menyeragamkan makna
sebuah hembusan napas. Namun Pagi, pernahkah memikirkan hal lain yang alam
siratkan tentang warna? Alam mengajak semua komponen warna membentuk suatu
Pelangi dan berusaha untuk menggabungkan semuanya dengan senyuman Pelangi.
Tetapi itu semua adalah candaan yang menghibur atas semua kelupaan mengenai
nada gita yang hilang di setiap bait alam. Jika dipikirkan, campuran warna juga
memberikan cerita yang berbeda dan tentunya itu menjadi hiasan di setiap nala
alam.
Pagi,
meskipun semua gita bersuara, menggugah setiap bunyi yang tak asing tetapi itu
belum menggubah bait menjadi Nirmala suara. Itu masih tersimpan dalam nada
warna yang tak semuanya mengetahui keberaadaannya. Lalu, masihkah cerita yang
diutarakan akan berlanjut dalam detakan waktu kini? Pagi, mari dengarkan cerita
warna yang menghilang di semburat alam. Setiap warna memulai cerita dengan gama
aroma rasa. Rasa yang berbeda tentunya, bukankah itu lucu untuk mengungkap rasa
warna? Gama dimulai dengan antari yang menyampaikan pesan bahwa langit akan
mengubah warnanya. Saat itu ada yang berpikir siapakah nada warna yang akan
muncul dahulu. Antari tidak sendiri memulai gendrangan nada, ia ditemani dengan
suara dersiknya. Oho. Itu dimulai ketika Rawi memulai peredarannya, langit pun
mulai menerima sinar dari dirgantara atas untuk dillanjutkan kepada patala
kemudian ia becampur dengan semburat yang dibawa antari untuk mengelilingi
setiap Nirmala alam. Pertemuan antari dan rawi menimbulan getaran langit dan
meruntuhkan semua kegelapan sebelumnya. Sudahkah cerita ini berhenti disini?
Pagi,
dan saat itu kata yang muncul adalah pagi dengan membawa kehangatan di setiap
hembusan alam., membuka asa setiap jiwa yang tertidur di alam mimpi. Hahaha,
itu gila bukan Pagi? Menceritakan tentang khayalan warna alam untuk menumpahkan
setiap rantaian kata yang terbelenggu dalam setiap ikatan rasa. Sampai kapan
cerita ini akan tetap dilanjutkan tanpa jeda? Mungkin ketika semua warna hitam
pikiran ini memudar dan jernih dari segala kekalutan dan ketakutan. Itu adalah
kesenjangan antara teka-teki nayanika pagi dengan kala pagi. Mungkin warna alam
akan menengahi semua perdabatan tentang gita alam untukmu pagi. Hujan warna itu
belum berhenti disini Pagi, ia terus berlanjut sampai ujung dan melewati semua
bebatuan kerikil di bentangan langit bumi. Bungkaman suara mengkin tergambar
dari lintasan jejak warna yang ditinggalkan alam warna di langit. Haruskah ia berhenti
di saat penghabisan waktu hingga menggores semua kala di awal bermula. Hening
namun tak senyap, semua ikut berirama, membetulkan sejenak hasutan yang terus
menggerogoti setiap Pelangi warna yang akan menghapusnya dengan suara hujan.
Detik itupun tak menjadi satu warna Pelangi yang akan menyentuh tetapi terus
menjadi sebuah firasat yang tak kunjung diam. Pertanyaan timbul kembali, benarkah
semua gama langit menjadi Ananta? Mungkin, di balik kilas waktu yang akan terus
mencari kesunyian di tengah keramaian anggit.
Pagi,
bisakah semua retakan warna itu tersusun kembali dan melengkapi nada gita yang
hilang di antara alunan bunyi. Rasanya keheningan dimulai dengan segala warna
hitam, menutup semua kemungkinan asa yang terpatri di wana Pelangi. Itu sebagai
firasat yang terus berbicara meskipun tak ada yang mengizinkan untuk bergerak
mengikuti kama. Di putaran waktu yang masih berjalan, hitungan detik masih
menyertai perubahan warna sejak awal dan mungkin masih tetap sama, berdiam
dengan penuh tanda tanya. Bukankah itu adalah cerita yang pas untuk didengarkan
kala? Sedikit senyuman yang terurai dari hilangnya raut emas saat itu.
Pagi,
bisakah tidak mendengar semua bisikan yang tersurat dari aliran udara dan
berakhir di ujung rasa warna sehingga ia tak perlu berganti menjadi abu. Pagi,
semuanya tertutupi oleh dentangan bunyi nada yang mengubah warna menjadi jingga
di keramaian suara. Itu tak mengecilkan semua bunyi namun hanya membiaskan
sedikit bisikan sehingga terganti dengan prosa nada warna di alam. Hebat bukan
kata yang tepat untuk itu semua. Pagi, itu hanya sementara bertahan di semua
keheningan langit hari. Genuruh warna akan tetap sama di jalur yang dilewati
batasan alam, tak selalu ada meskipun hembusan napas mencoba berlalu dengan
bebas. Pagi, apakah itu cukuup membuat kebisingan menjadi kesunyian? Detak
detik waktu masih berlangsung meskipun rasa warna belum kembali menjadi cerah.
Aneh bukan Pagi. Hiasan rangkaian kata ini menggambarkan keapikan warna yang
sedang terjadi di alam anggit.
Warna
suara begabung dengan warna kata di alam tetapi itu bukan smua cerita yang
dijelaskan. Itu adalah detakan yang terlukis dengan untaian kata, mencoba
mengisi semua kala dengan rangkaian kata dan melepaskan semua bentuk kekalutan
yang tersimpan sediri. Pagi, mungkin jauh disana di alam warna lain, cerita
yang tertuang sedikit berbeda dan lebih hidup dengan suara detakan. Pagi,
bisakah semuanya berganti warna dengan cepat? Semua kekacauan anggit di alam
berharap akan menghilang dan menjadi Pelangi warna yang ada di tujuan gama.
Arkana masih hitam di detak kala.
Mari
beralih ke Sore, kini semburat warna di alam telah mengindikasikan bahwa cahaya
sedikit demi sedikit tertutup dengan tebalnya awan. Ini juga menandakan bahwa
goresan waktu sekarang telah memasuki ambang batas hari, Suara di langit akan
dimulai dan saatnya angin akan menyapa waktu untukmu Sore. Sore, setelah banyak
waktu merangkai kata bersama pagi, sekarang akan menyapamu sore di ujung hari.
Namun angin membawa pesan untuk mengarahkan barisan awan yang sudah siap
menurunkan bulir hujan. Sore, tak begitu leleahkah menunggu di penghujung.
Tidak, tentuya karena semua ada tempat dan waktunya masing-masing. Itu benar
bukan. Detaknya mulai lambat dan lebur seiring waktu.